PSIKOLOGI ROBOT DAN KRISIS EKSISTENSIAL MANUSIA

Tantangan Teologis dan Pastoral bagi Gereja di Era Kecerdasan Buatan

Abstrak

Perkembangan robotika dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah secara signifikan cara manusia bekerja, berelasi, dan memahami dirinya. Dalam banyak konteks, sistem berbasis AI mampu memberikan respons yang lebih cepat dan efisien dibandingkan manusia. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai makna kemanusiaan, relasi, dan eksistensi manusia di tengah dunia yang semakin dimediasi oleh mesin. Artikel ini mengkaji pengaruh psikologi robot terhadap eksistensi manusia dengan pendekatan psikologis dan teologis, serta merefleksikan implikasinya bagi pelayanan gereja. Artikel ini menegaskan bahwa gereja dipanggil bukan untuk menolak teknologi, melainkan untuk menghadirkan kembali spiritualitas kehadiran yang inkarnasional dan relasional.

1. Pendahuluan

Revolusi teknologi digital pada abad ke-21 ditandai oleh hadirnya robot dan kecerdasan buatan yang tidak lagi terbatas pada ranah industri, tetapi telah memasuki ruang personal, sosial, dan spiritual manusia. Chatbot, asisten virtual, dan sistem kecerdasan buatan kini digunakan untuk mencari informasi, memberi nasihat, bahkan menemani manusia dalam kesepian. Dalam banyak kasus, manusia mengalami bahwa teknologi mampu merespons lebih cepat, konsisten, dan tanpa kelelahan dibandingkan sesama manusia. 

Fenomena ini memperlihatkan pergeseran mendasar dalam pola relasi dan cara manusia memaknai kehadiran¹. Situasi ini menghadirkan tantangan serius bagi gereja. Pertanyaan yang muncul bukan sekadar soal penggunaan teknologi, tetapi menyangkut makna eksistensi manusia dan kualitas relasi dalam komunitas iman. Gereja dipanggil untuk membaca tanda-tanda zaman ini secara kritis dan teologis, agar tidak kehilangan panggilan dasarnya dalam merawat kemanusiaan sebagai anugerah Allah.

2. Robot sebagai Agen Relasional dalam Perspektif Psikologi

Dalam kajian psikologi kontemporer, khususnya psikologi sosial dan studi interaksi manusia -teknologi, robot dan AI dipahami sebagai relational agents, yakni entitas yang mampu memicu keterikatan emosional manusia². Manusia secara psikologis cenderung mengatribusikan empati, perhatian, dan bahkan kehadiran pada teknologi yang mampu mensimulasikan respons afektif.

Sherry Turkle menunjukkan bahwa relasi manusia dengan teknologi sering kali muncul dari kekecewaan terhadap relasi antarmanusia yang rapuh dan penuh tuntutan³. Relasi dengan robot dianggap lebih aman karena tidak menghakimi, tidak menuntut komitmen timbal balik, dan dapat dikendalikan sepenuhnya oleh pengguna. Namun demikian, relasi semacam ini bersifat ilusioner. Robot tidak memiliki kesadaran diri, empati sejati, maupun kemampuan untuk mengalami penderitaan bersama. Relasi yang dibangun tidak melibatkan risiko eksistensial yang menjadi inti dari relasi manusia yang autentik.

3. Krisis Eksistensi dan Reduksi Makna Manusia

Psikologi eksistensial menegaskan bahwa manusia adalah makhluk pencari makna (meaning-seeking being)⁴. Ketika fungsi kognitif dan afektif tertentu dapat direplikasi oleh mesin, muncul kecenderungan untuk menilai manusia berdasarkan parameter efisiensi, produktivitas, dan kecepatan parameter yang justru menjadi keunggulan teknologi. 

Viktor Frankl menegaskan bahwa krisis utama manusia modern bukanlah kekurangan sarana, melainkan kehilangan makna hidup⁵. Dalam konteks dominasi teknologi, manusia berisiko mengalami alienasi: terasing dari dirinya sendiri, dari sesama, dan dari dimensi spiritual kehidupannya. Manusia mulai hidup untuk menyesuaikan diri dengan sistem, bukan untuk menghayati makna keberadaannya.

4. Refleksi Teologis: Imago Dei di Era Mesin

Teologi Kristen memahami manusia sebagai imago Dei - gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26–27). Dasar biblis ini menegaskan bahwa martabat manusia melekat pada relasinya dengan Allah, bukan pada kapasitas teknologis atau produktivitasnya. 

Konsep ini tidak merujuk terutama pada kemampuan rasional atau teknologis, melainkan pada kapasitas relasional, tanggung jawab moral, dan keterarahan manusia kepada Allah dan sesama⁶. Robot dan AI dapat meniru perilaku manusia, tetapi tidak memiliki kesadaran moral dan dimensi spiritual. Mereka tidak hidup dalam relasi perjanjian dengan Allah dan tidak dapat dimintai pertanggungjawaban etis. Inkarnasi Kristus menegaskan bahwa Allah memilih kehadiran personal dan relasional sebagai jalan keselamatan, bukan mekanisme atau sistem yang efisien⁷.

5. Implikasi Pastoral bagi Pelayanan Gereja

Dalam praktik pelayanan, gereja menghadapi tantangan nyata ketika teknologi sering kali dirasakan lebih responsif dibandingkan komunitas iman. 

Hal ini menuntut evaluasi kritis terhadap pola pelayanan yang terlalu administratif dan fungsional.Pelayanan pastoral di era kecerdasan buatan harus menekankan kehadiran yang mendengarkan (Yakobus 1:19), pendampingan dalam ketidakpastian hidup (Roma 12:15), serta relasi yang memulihkan martabat manusia sebagai ciptaan Allah. Dietrich Bonhoeffer menegaskan bahwa gereja adalah komunitas yang dipanggil untuk saling memikul beban, bukan sekadar menyediakan solusi instan⁸.

6. Etika dan Spiritualitas Teknologi

Gereja dipanggil untuk mengembangkan etika teknologi yang berakar pada kasih dan tanggung jawab. Teknologi, termasuk AI, harus dipahami sebagai alat, bukan subjek moral. Tanpa kerangka etis dan spiritual, teknologi berisiko memperkuat dehumanisasi dan relasi semu.

Byung-Chul Han menunjukkan bahwa budaya modern yang dikuasai efisiensi dan kinerja melahirkan manusia yang lelah secara psikis dan eksistensial⁹. Gereja perlu menjadi ruang resistensi profetik dengan menegaskan kembali nilai keheningan, kesabaran, dan kesetiaan dalam relasi.

7. Kesimpulan

Psikologi robot membuka diskursus penting mengenai masa depan kemanusiaan. Gereja tidak dipanggil untuk menolak teknologi, melainkan untuk menafsirkannya secara kritis dan mengarahkannya bagi pemeliharaan kehidupan. Di tengah dunia yang semakin dikuasai mesin, gereja dipanggil untuk menegaskan kembali bahwa martabat manusia terletak pada relasi, kasih, dan makna yang dianugerahkan Allah. Robot boleh menjawab lebih cepat, tetapi hanya manusia yang mampu menghadirkan kehadiran yang menyelamatkan, kehadiran yang mencerminkan kasih Allah yang berinkarnasi dalam Yesus Kristus (Yohanes 1:14).

Oleh : Pdt. Sammy Sahulata. M.Si.
Bertugas di Lembaga Pembinaan Jemaat Gereja Protestan Maluku

 


Daftar Pustaka :

Byung-Chul Han, Masyarakat Kelelahan (Yogyakarta: Penerbit Circulasi).
Cynthia Breazeal, Designing Sociable Robots (Cambridge: MIT Press, 2002), digunakan secara luas dalam kajian psikologi relasi manusia-mesin.
Sherry Turkle, Sendirian Bersama (edisi terjemahan dan rujukan Indonesia).
Rollo May, Arti Kecemasan (Yogyakarta: Kanisius).
Viktor E. Frankl, Manusia Mencari Makna (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama).
Jürgen Moltmann, Allah dalam Ciptaan (Jakarta: BPK Gunung Mulia).
Karl Barth, Dogmatika Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, terjemahan pilihan).
Dietrich Bonhoeffer, Hidup Bersama (Jakarta: BPK Gunung Mulia).
Byung-Chul Han, Psikopolitik (Yogyakarta: Penerbit Circulasi).

 

Masuk untuk meninggalkan komentar