Mukjizat terbesar bukan ketika penyakit lenyap dari tubuh, tetapi ketika luka-luka yang lama disembunyikan di batin berani disentuh dan dipulihkan oleh Allah. Tubuh yang sembuh bisa kembali rapuh, tetapi batin yang dipulihkan melahirkan kekuatan untuk tetap hidup, berharap, dan bertahan, bahkan di tengah kenyataan yang tidak berubah.
Ironisnya, banyak orang hari ini tampak sehat, aktif beribadah, sibuk melayani, tetapi jiwanya sakit : retak oleh ketakutan, dipenuhi kepahitan, dihantui rasa gagal, dan kehilangan arah.
Gereja sering merayakan kesembuhan tubuh, tetapi terlalu cepat menutup mata terhadap batin yang berdarah.
Mereka tersenyum di luar, tetapi runtuh di dalam.
Mereka tampak rohani, tetapi kosong di kedalaman. Inilah penyakit yang paling sunyi dan justru paling berbahaya.
Yesus tidak hanya menyembuhkan yang lumpuh dan yang buta. Ia memulihkan martabat yang dirampas, mengampuni yang disingkirkan, dan mengangkat mereka yang hidupnya sudah dipatahkan oleh sistem, stigma, dan dosa. Ia tahu : tubuh yang sehat tanpa batin yang pulih hanya melahirkan manusia yang kelihatan utuh, tetapi sesungguhnya kosong. Namun batin yang disembuhkan mampu menopang tubuh yang masih lemah, dan iman yang belum melihat hasil.
- Mukjizat batin membuat orang tetap percaya meski belum sembuh.
- Mukjizat batin membuat orang tetap mengasihi meski masih terluka.
- Mukjizat batin membuat orang tetap berdiri meski hidup belum berubah.
Karena itu, mukjizat yang paling agung bukan sekadar kesembuhan fisik, melainkan pemulihan jiwa. Ketika manusia berhenti berpura-pura kuat dan berani jujur di hadapan Allah. Saat itulah manusia kembali menemukan makna, harapan, dan keberanian untuk hidup bukan demi terlihat baik, tetapi demi sungguh-sungguh hidup di hadapan Tuhan.
Lembaga Pembinaan Jemaat GPM
03 Pebruari 2026
Pdt. Sammy Sahulata
MUKJIZAT YANG PALING AGUNG BUKAN DI TUBUH, MELAINKAN DI BATIN