Editor

MISI DARI DAERAH PERBATASAN

Sebuah refleksi personal terhadap praxis pelayanan dan kunjungan di wilayah perbatasan NKRI di pulau Miangas kab. Kepulauan Talaud Sulawesi Utara.
Indonesia adalah negara maritim  terbesar di dunia, dan terkenal dengan beragam suku dan budayanya. Negeri  kita memiliki  tujuh belas ribu pulau besar dan kecil, yang terbentang dari  Sabang sampai Merauke dan dari pulau Rote sampai ke Miangas di paling Utara indonesia, yang berbatasan langsung dengan negara Filipina. Sungguh sebuah anugerah Tuhan kepada bangsa kita yang harus kita syukuri.

Gereja Protestan di Indonesia (GPI) di tempatkan oleh Tuhan untuk menukir karya di negeri Nusantara ini sejak abad ke-16 dan sampai hari ini melalui gereja-gereja anggota GPI yg tersebut di seluruh wilayah Nusantara. Salah satunya adalah Gereja Masehi injili Talaud (GERMITA)

Pulau Miangas adalah salah satu pulau yang ada di perbatasan langsung dengan negara tetangga Filipina. Pulau tersebut merupakan bagian dari Kabupaten Talaud, Provinsi Sulawesi Utara.


Dari Pulau Miangas, kita dapat melihat daratan Filipina  (Mindanau), yang nampak seperti bayang-bayang di kejauhan. Kita hanya butuh waktu tiga sampai empat jam menuju ke Mindanau dengan naik van boat atau perahu motor.


Pulau Miangas saat ini dihuni oleh kurang lebih 800-san jiwa. Sebagian besar beragama Kristen Protestan, yaitu warga GERMITA jemaat Efrata Miangas. Hanya satu orang muslim, pendatang dan sering para petugas yg ditempatkan di Miangas.


Pada umumnya orang Miangas  bekerja sebagai nelayan, tapi mereka juga memiliki kebun walaupun tidak terlalu besar. Jika musim  ombak, cuaca ekstrim dan gelombang besar,  mereka beraktifitas di darat sambil menanam umbi-umbian, pisang  sayur dan buah-buahan di areal perkebunan yang tidak terlalu besar,  namun cukup subur bagi tanaman untuk bertumbuh. Tanaman kelapa merupakan salah satu tananan produksi yg dapat membantu ekonomi masyarakat Miangas.