Tadi pagi, tepat pukul 09.00 WIT, saya mendapat kehormatan untuk memimpin ibadah di Jemaat GPI Papua Petra Muli Merauke. Tema Mingguan khotbah hari ini diturunkan oleh IAI Sinode GPI Papua adalah “Menjaga Ciptaan, Memuliakan Sang Pencipta”. Tema ini menginspirasi saya dari sebuah kegelisahan yang cukup ‘menggelitik’ setelah saya menyaksikan sebuah tayangan di Netflix berjudul “Mens Rea” dari saudara Panji Pragiwaksono. Isinya blak-blakan, jujur, dan menyentuh realitas politik kita, sampai-sampai beliau dilaporkan ke pihak berwajib dengan alasan ‘membuat kegaduhan’.
Peristiwa itu menjadi semacam ‘lampu kuning’ yang berkedip-kedip di pikiran saya: sepertinya, kalau kita berkhotbah terlalu keras, mengoreksi kebijakan, atau menyuarakan suara yang berbeda, bisa-bisa kita ‘dijemput’ untuk dimintai pertanggungjawaban. Tapi, tenang! saya berdoa hari ini kita bisa belajar dengan hati terbuka, tanpa ada yang perlu ‘ditangkap’ selain pesan kebenaran itu sendiri.
Mari kita lanjutkan.”
Saudara-saudara yang dikasihi dalam Kristus,
Pada suatu hari yang biasa seperti hari ini, sekitar 2.700 tahun yang lalu, seorang nabi bernama Yesaya berdiri dengan kaki gemetar dan jantung berdebar di atas bukit. Di bawahnya, bangsa Yehuda yang ia kasihi sedang tenggelam dalam kegelapan yang mereka ciptakan sendiri penyembahan berhala, ketidakadilan, dan kecemaran moral telah mengubah tanah yang dijanjikan menjadi padang tandus rohani. Lalu, dalam keputusasaan yang paling kelam itu, Tuhan membelah langit penglihatannya dan memberikan sebuah visi yang tidak hanya untuk Yehuda, tetapi untuk segala bangsa, untuk segala zaman, termasuk kita yang mendengar pada pagi ini.

Bayangkan jika Yesaya berdiri di tengah-tengah kita sekarang, bukan di atas bukit yang sunyi, tetapi di Wanam dan Jagabob yang riuh dengan suara derita masyarakat adat yang kehilangan harta berharga mereka yakni hutan! Matanya akan menyaksikan bukan berhala dari batu dan kayu, tetapi berhala-berhala modern yang lebih licin dan lebih mematikan: berhala kekuasaan yang membutakan, berhala ekonomi yang menghisap darah orang kecil, dan berhala kenikmatan instan yang menghancurkan bumi warisan anak cucu. Ia akan melihat kesenjangan yang menganga seperti luka, sementara pesta pora kekuasaan berlangsung di istana-istana yang megah. Ia akan mencium bau sungai yang tercemar limbah dan melihat langit yang dikotori asap keserakahan. Di tengah semua ini, firman Yesaya 2:1-5 datang bukan sebagai pelengkap ibadah, melainkan sebagai teriakan kenabian yang mendesak, sebuah visi radikal tentang dunia yang seharusnya, yang menjadi cermin tajam bagi dunia yang ada.
Saudara-saudara yang dikasihi dalam Kristus,
Dalam penglihatan itu, Yesaya melihat sesuatu yang ajaib. Ia melihat orang-orang dari berbagai suku, bangsa, dan bahasa bukan dipaksa oleh tentara atau rayuan uang tetapi dengan sukarela dan penuh kerinduan, berduyun-duyun menuju satu tujuan: Gunung Tuhan. Mereka datang bukan untuk mencari proyek atau dispensasi, bukan untuk menjilat atau mendapat bagian. Mereka datang dengan satu seruan yang polos dan mendalam: “Mari kita naik ke gunung TUHAN, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya.” Mereka haus akan dua hal: Torah (pengajaran, kebenaran) dan Mishpat (keadilan, keputusan yang benar). Inilah gambaran Gereja yang sejati, umat yang menjadi magnet bukan karena kemegahan gedungnya, melainkan karena kelaparannya akan kebenaran dan komitmennya pada keadilan.

Namun, lihatlah kontrasnya dengan kenyataan kita! Di manakah kerinduan seperti itu? Seringkali kita lebih tertarik untuk berduyun-duyun mendatangi pusat-pusat kekuasaan duniawi. Gereja pun kerap terjebak, sibuk membangun menara Babelnya sendiri, sementara suara kenabiannya dibungkam, digantikan oleh bisik-bisik diplomatis yang tidak menyentuh akar dosa sistemik. Iman kita menjadi privat, nyaman, dan apolitis. Kita berdoa untuk pemulihan ciptaan di dalam ruangan ber-AC, sementara di luar, izin-izin perampokan bumi atas nama investasi terus dikeluarkan. Di mana teriak kita (gereja & para pendeta) ketika hutan dibabat, laut dikeruk, dan hak masyarakat adat diinjak-injak? Iman yang diam di tengah ketidakadilan ekologis adalah iman yang mandul, iman yang telah kehilangan garamnya.
Saudara-saudara yang dikasihi dalam Kristus,
Namun, visi Yesaya tidak berhenti pada kerinduan. Ia melangkah lebih jauh ke sebuah tindakan paling revolusioner yang dapat dibayangkan: “Mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak.” Ini adalah perintah untuk transformasi total. Bukan sekadar berhenti berperang, tetapi aktif mengubah alat penghancur menjadi alat penghidupan. Tuhan meminta kita menempa ulang logika dasar hidup kita: dari logika kekuasaan yang menghancurkan menjadi logika pelayanan yang memulihkan; dari mentalitas eksploitasi menjadi mentalitas penatalayanan. Setiap kali kita memilih untuk tidak menggunakan sedotan plastik, setiap kali kita mematikan keran air yang menetes, setiap kali kita memilih berjalan kaki untuk jarak dekat, kita sedang melakukan tindakan kenabian kecil. Kita sedang berkata “tidak” pada sistem dunia yang serakah dan “ya” pada pola Kerajaan Allah yang memulihkan.

Saudara-saudara yang dikasihi dalam Kristus,
Lalu, nabi itu berteriak dengan suara yang menggema sepanjang masa, “Mari kita berjalan dalam cahaya TUHAN!” Ini adalah panggilan untuk bertindak sekarang, bukan besok. Berjalan dalam terang berarti kejujuran radikal di tengah era hoax dan pencitraan. Berarti keberpihakan yang jelas pada fakta dan keadilan, meskipun bertentangan dengan narasi populer penguasa. Berarti hidup kita di rumah, di kantor, di pasar menjadi saksi bisu yang keras tentang siapa sesungguhnya Pemilik bumi ini. Kita tidak bisa lagi hanya menjadi penonton yang rajin beribadah. Kita dipanggil menjadi aktor yang mengubah dunia dimulai dari meja makan kita, dari kebun kita, dari dompet kita.
Oleh karena itu, biarlah aplikasi ini menjadi nyata dan sederhana. Mulailah dengan satu langkah kecil yang konsisten. Di meja makan, pilihlah satu hari tanpa daging dalam seminggu, belilah dari petani lokal. Di dapur, gunakan kembali wadah bekas, matikan lampu yang tidak perlu. Di kebun, tanamlah satu pohon yang bisa menjadi tempat burung bersarang. Di gereja, doronglah penggunaan peralatan yang bisa dicuci ulang daripada plastik sekali pakai. Di masyarakat, suarakan kepedulian pada kebijakan publik yang merusak lingkungan. Tindakan-tindakan ini bukan sekadar “hijau-hijauan”. Ini adalah ibadah politik yang radikal, bentuk nyata mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Ini adalah cara kita memungut suara untuk Kerajaan Allah setiap hari.
Saudara-saudara yang dikasihi dalam Kristus,
Inilah pengadilan ilahi atas kita:
- Kita telah menempa MATA BAJAK menjadi PEDANG. Teknologi pertanian berkelanjutan dikalahkan oleh mesin pembabat hutan. Pengetahuan lokal yang memelihara diinjak oleh paten benih korporat.
- Kita telah menempa PISAU PEMANGKAS menjadi TOMBAK. Kebijakan yang seharusnya memangkas keserakahan justru menjadi tombak yang menikam regulasi lingkungan. UU diubah menjadi senjata untuk mengamankan investasi yang merusak.
- Kita masih dengan rajin BELAJAR BERPERANG bukan perang antar bangsa, tetapi PERANG MELAWAN SANG PENCIPTA DAN CIPTAAN-NYA. Perang melalui kebijakan, melalui iklan yang memacu konsumsi, melalui budaya throw-away yang menyembah kemudahan dan mengubur tanggung jawab.

Agama kita pun telah dikalahkan dalam perang ini. Ia menjadi budak budaya, mengutuk dosa-dosa personal seperti seks di luar nikah, tetapi membisu melihat dosa sosial yang jauh lebih besar: DOSA EKOSIDA, pembunuhan sistematis terhadap sistem kehidupan. Di mana suara gereja ketika hutan ditebang? Di mana teriak para pendeta ketika sungai dikeruk? Mereka sibuk membangun mega-church berlapis marmer dengan AC sentral, sebuah arkologi ego yang terpisah dari jeritan ciptaan.
Saudara-saudara yang dikasihi dalam Kristus,
Pertobatan yang diminta bukanlah pertobatan simbolis puasa plastik sekali setahun atau menanam pohon saat foto. Pertobatan yang diminta adalah PERTOBATAN TOTAL, REVOLUSI SPIRITUAL, DAN PEMBONGKARAN SISTEM.
1. PERTOBATAN POLITIK:
Gereja harus berhenti menjadi tamu kehormatan di istana penguasa dan menjadi suara nabi di gerbang kota. Kita harus menuntut kebijakan yang bukan sekadar “hijau”, tapi berkeadilan radikal. Menolak investasi yang mengorbankan orang miskin dan alam. Ini bukan politik praktis; ini IMAN YANG DIPRAKTIKKAN.
2. PERTOBATAN EKONOMI:
Umat Kristen harus memeriksa dompetnya dengan mata iman. Setiap rupiah yang kita belanjakan adalah suara untuk jenis dunia yang kita inginkan. Berhenti membiayai perusahaan perusak. Beralih ke ekonomi sirkular, lokal, dan berbagi. Ini adalah BOIKOT SUCI sebagai tindakan iman.
3.PERTOBATAN BUDAYA:
Kita harus membunuh berhala “Kenyamanan” dan “Kemajuan” palsu. Gaya hidup kita adalah biang kerusakan. Kurangi, gunakan ulang, daur ulang bukan hanya slogan, tapi SAKRAMEN KESEDERHANAAN. Menolak budaya konsumerisme adalah bentuk asketisme baru.
4.PERTOBATAN TEOLOGIS:
Khotbah dari mimbar harus berdarah-darah membela Bumi. Keselamatan dalam Kristus harus mencakup pemulihan seluruh ciptaan. Misi gereja adalah misi ekologis. Jika tidak, kita hanya menjual tiket ke surga sambil membakar satu-satunya kapal yang kita miliki planet Bumi.
Saudara-saudara yang dikasihi dalam Kristus,
Ingatlah ini: bumi dengan segala isinya adalah milik Tuhan. Kita hanyalah penjaga sementara, bukan pemilik. Setiap kali kita merusaknya, kita sedang merampas dan menodai milik Sang Tuan. Tetapi setiap kali kita menjaganya dengan penuh kasih, kelembutan, dan tanggung jawab kita sedang mempersembahkan pujian yang paling nyaring di sorga. Kita sedang berkata, “Engkau adalah Pencipta yang baik, dan kami menghargai karya tangan-Mu.”
Maka, bangkitlah. Bangkit dari kenyamanan dan kepasifan. Tempa ulang pedang ketakutan dan kepatuhan buta kita menjadi mata bajak keberanian dan ketaatan yang kritis. Biarlah setiap pilihan etis kita, setiap suara yang kita angkat untuk yang tak bersuara, menjadi benih subversif dari Kerajaan damai sejahtera itu. Pilihan kita jelas: tetap berjalan dalam kegelapan kompromi dengan sistem dunia, atau melangkah pasti dalam terang Tuhan. Pilih untuk menjadi gunung Tuhan yang sejati—komunitas yang hidupnya berbeda, yang menarik dunia bukan karena kuasanya, tetapi karena kebenaran, keadilan, dan kasihnya yang nyata bagi ciptaan.

Saudara-saudara yang dikasihi dalam Kristus,
Biarlah visi Yesaya bukan lagi sekadar mimpi indah di masa depan, tetapi kenyataan yang kita wujudkan, langkah demi langkah, mulai dari diri kita, hari ini juga. Karena ketika kita dengan setia menjaga ciptaan, saat itulah kita dengan sungguh-sungguh memuliakan Sang Pencipta. Seruan Yesaya berkumandang di pagi ini untuk kita semua “Mari kita berjalan dalam cahaya TUHAN”! Jalan ini menuntut pengorbanan, keberanian melawan arus, dan kesediaan untuk dikucilkan. Inilah Jalan Salib Ekologis.
Menjaga Ciptaan, Memuliakan Sang Pencipta